Rabu, 02 Januari 2013

Beriman : Adzab Kubur


BERIMAN TERHADAP HADITS-HADITS TENTANG ADZAB KUBUR


Ada sebagian manusia yg tidak mempercayai tentang adanya adzab kubur. Mereka beranggapan bahwa hadits-hadits tentang adzab kubur bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an berikut:

a.       ”Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah MEMBERI TANGGUH kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahiim: 42)

b.      ”Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa: ‘Mereka tidak BERDIAM (DALAM KUBUR) melainkan sesaat (saja).’ Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Ar-Ruum: 55)

c.       “Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: ‘Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari TEMPAT TIDUR KAMI (KUBUR)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- Rasul(Nya).” (QS. Yasin: 51-52)

Orang-orang yang mengingkari adzab kubur beranggapan bahwa siksa bagi orang yang dzalim akan ditangguhkan sampai hari kiamat dan ketika masih di alam kubur seperti orang yang diam atau tidur tanpa ada siksa kubur sama sekali.

Orang yang mengingkari adzab kubur akan menolak hadits-hadits yang menceritakan adzab kubur. Berikut beberapa hadits tentang adzab kubur:

a.       Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: Bahwa wanita Yahudi masuk kepada ‘Aisyah, lalu dia menyebutkan tentang adzab kubur, maka dia berkata kepadanya: “Berlindunglah kamu kepada Allah dari adzab kubur.” Maka ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam tentang adzab kubur. Rasulullah menjawab: “Benar, adzab kubur ada.” ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Maka aku tidaklah pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan melainkan setelah shalat pasti ia meminta perlindungan dari adzab kubur.” Ghundar menambahkan bahwa adzab kubur adalah benar. (HR. Bukhari, Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fi Azabil Qabri, no. 1372)

b.      Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Wahai manusia, berlindunglah kalian dari adzab kubur, sesungguhnya adzab kubur itu benar adanya.” (HR. Ahmad No. 24520, Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini sesuai syarat Imam Bukhari. Lihat Fathul Bari, 3/236, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih sesuai syarat syaikhan (Bukhari-Muslim).” Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24520)

c.       Dari ‘Aisyah radhilallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda: Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam shalat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Masih ad-Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari, Kitab Al Adzan Bab Ad Du’a Qabla As Salam, No. 732)

d.      Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan ummatnya untuk senantiasa berdo’a memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur di setiap akhir tasyahhud sebelum salam ketika shalat: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588 (128) dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Berikut ini perkataan ulama mengenai hadits-hadits tentang adzab kubur.

Ibnu Abi Ashim berkata: “Telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berlindung dari adzab kubur. Dan telah shahih pula dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa umatnya akan ditanya (oleh malaikat Munkar dan Nakir) dalam kuburnya. Semua hadits tersebut menunjukkan ilmu yakin yang tidak boleh diragukan. Kita berlindung kepada Alloh agar menjaga kita semua dari adzab kubur dan menjadikan kuburan kita sebagai taman yang hijau yang menyinari kita di dalamnya.” (As-Sunnah 1/608, tahqiq Dr. Basim Al-Jawabirah)

Ibnu Abdil Barr berkata: “Hadits-hadits tentang masalah ini (adzab kubur) derajatnya mutawatir. Seluruh Ahli Sunnah wal Jama’ah mengimaninya. Dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali ahli bid’ah.  (At-Tamhid 9/230)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Adapun hadits-hadits tentang adzab kubur  dan pertanyaan malaikat Mungkar dan Nakir, maka jumlahnya banyak sekali dan mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.  (Perkataan ini dinukil dan disetujui pula oleh murid beliau Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ar-Ruuh hal.97, Lihat pula Miftah Daar Sa’adah 1/207, Majmu Fatawa 4/285)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan telah mutawatir hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang  adzab kubur  dari hadits Baro’ bin Azib, Anas bin Malik dan selainnya.” (Majmu Fatawa 4/257)

Al-Hafidz Ibnu Rojab rahimahullah berkata: “Dan sungguh telah mutawatir hadits-hadits dari Nabi tentang adzab kubur  dan berlindung darinya.” (Ahwaal Qubur hal. 81)

Imam Al-Qoshtholani menukil ucapan penulis Mashobih Al-Jami: “Sungguh banyak sekali hadits-hadits berkaitan tentang siksa kubur, sehingga tidak sedikit ulama mengatakan bahwa haditsnya mutawatir. Kalau tidak shahih masalah ini maka tidak ada pokok agama lainnya yang shahih.” (Irsyadu Saari 3/468)

Al-Allamah Al-‘Ainy berkata: “Keyakinan kita ini berdasarkan hadits-hadits shahih dan mutawatir diantaranya adalah hadits pembahasan di atas.” (Umdatul Qory 8/146)

Al-Allamah As-Saffarini berkata: “Beriman dengan siksa kubur  hukumnya wajib dalam syariat karena telah shahih sejumlah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam -yang ma’shum- yang mencapai derajat mutawatir.” (Lawami’ul Anwar 2/5 dan Lawaikhul Anwar As-Saniyyah 2/144)

Al-Allamah Al-Ubayy berkata dalam Syarah Shahih Muslim: “Hadits seputar adzab kubur  derajatnya mutawatir dan menjadi kesepakatan Ahli Sunnah.” (Dinukil dari Nadhmul Mutanasir hal. 34, Al-Kattani)

Imam As-Suyuthi berkata: “Dan telah mutawatir hadits-hadits tentangnya (siksa kubur) yang diriwayatkan dari dua puluh enam sahabat.” (Syarah Shudur hal. 170 dan Qothful Azhar Al-Mutanatsiroh hal. 294-295)

Imam Az-Zabidi berkata: “Dan sungguh telah mutawatir hadits-hadits yang berkaitan tentang hal itu dari Abu Hurairah, Bara’, Tamim Ad-Dari.” (Ithaf Saadatil Muttaqin I/412-413 dan Luqothu Al-Ala’i Al-Mutanatsiroh hal. 213-216)

Imam Al-Baihaqi menulis kitab khusus berjudul “Itsbat Adzab Qobr Wasuali Malakaini” beliau membawakan hadits dari tiga puluh sembilan sahabat.

Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi berkata: “Dan telah mutawatir hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang siksa dan nikmat kubur  serta pertanyaan dua malaikat. Maka wajib beriman tentang adanya hal tersebut.” (Syarah Aqidah Thohawiyyah 2/578)

Imam As-Syathibi menyatakan mutawatir dalam kitabnya Al-I’tishom 2/849.

Al-Muhaddits Al-Albani berkata: “Hadits-hadits tentang adzab kubur  derajatnya mutawatir, lain halnya dengan penilaian sebagian kelompok kontemporer.” (Ash-Shahihah 1/965)

Dan masih banyak lagi yang lainnya seperti Al-Qolsyani dalam Syarh Ar-Risalah, As-Sa’ad dalam Syarh An-Nasafiyyah, Al-Fasy dalam Syarh Ats-Tsabit, Al-Laqqoni dalam Syarh Al-Jauharah. (Nadmul Mutanatsir hal. 132-135, Al-Kattani)

Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa makna Al-Ghaib adalah setiap perkara yang diinformasikan oleh Rasulullah di luar kapasitas akal manusia seperti tanda-tanda dekatnya hari kiamat, siksa kubur, kebangkitan dari kubur, perkumpulan manusia di alam mahsyar, jembatan timbangan, surga dan neraka. (Tafsir Fathul Qadir 1/36)

Imam Al-Ajurri berkata setelah membawakan beberapa hadits dan atsar tentang siksa kubur: “Alangkah jeleknya keadaan orang-orang yang mengingkari hadits-hadits ini. Sungguh mereka telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.” (Asy-Syari’ah, 364)

Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Mereka berselisih tentang adzab kubur. Di antara mereka ada yang meniadakannya, yaitu Mu’tazilah dan Khawarij. Sebagian mereka menetapkannya yaitu mayoritas ahli Islam.” (Maqolat Islamiyyin 2/116)

Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Kaum Mu’tazilah mengingkari adzab kubur, padahal telah diriwayatkan dari Nabi dari jalan yang banyak, demikian pula dari sahabatnya -semoga Alloh meridhoi mereka-. Tidak pernah dinukil dari seorangpun dari mereka ada yang mengingkarinya, meniadakan dan menolaknya. Dengan demikian, maka hal itu harus menjadi ijma’ (konsensus) para sahabat Nabi.” (Al-Ibanah ‘An Ushul Diyanah hal.125)

Imam Nawawi berkata: “Kesimpulannya, madzhab Ahli Sunnah adalah menetapkan adanya adzab kubur, berbeda halnya dengan firqoh Khawarij, mayoritas Mu’tazilah dan sebagian Murji’ah yang meniadakannya.” (Syarh Shohih Muslim 18/323)

Al-Hafizh Al-‘Aini juga berkata: “Dalam hadits ini terdapat penetapan akan adanya adzab kubur. Ini merupakan madzhab Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan diingkari oleh Dhiror bin Amr dan Bisyr Al-marrisy serta mayoritas Mu’tazilah belakangan.” (Umdatul Qori 8/145)

Imam Adz-Dzahabi berkata dalam biografi Dhiror bin Amr: “Seorang mu’tazilah tulen, mempunyai pemikiran-pemikiran keji. Ibnu Hazm berkata: Dhiror mengingkari adzab kubur.” (Mizanul I’tidal 3/450)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Adzab kubur itu haq, tidaklah diingkari kecuali oleh orang yang sesat dan menyesatkan.” (Thabaqat Al-Hanabilah 1/62)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Beriman dengan adanya adzab kubur. Sesungguhnya umat ini akan diuji dan ditanya dalam kuburnya tentang Iman, Islam, siapa Rabbnya dan siapa Nabinya. Munkar dan Nakir akan mendatanginya sebagaimana yang Dia kehendaki dan inginkan. Kita wajib beriman dan membenarkan hal ini.” (Ushulus Sunnah oleh Imam Ahmad)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Kita beriman dengan semua ini (termasuk siksa kubur dan pertanyaan Munkar Nakir). Barangsiapa yang mengingkari salah satu darinya, maka dia Jahmy.” (Al-Masail Ibnu Hani: 1873)

Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Mereka (Ahlus Sunnah) telah bersepakat bahwa adzab kubur itu haq.” (Ar-Risalah Ila Ahli Saghor hal.159)

Ibnu Abdil Barr berkata: “Tidak ada perselisihan antara Ahlu Sunnah tentang iman akan adanya adzab kubur.” (At-Tamhid 9/230)

Imam Al-Juwaini berkata: ”Telah mutawatir hadits-hadits yang menceritakan bahwa Nabi berlidung kepada Allah dari adzab kubur. Perkataan bahwa hadits-haditsnya hanyalah ahad adalah takalluf (pemaksaan). Aqidah ini mutawatir di kalangan salaf sholih sebelum munculnya ahli bid’ah dan hawa.” (Al Irsyad hal.375)

Al Kattani juga berkata: ”Tidak sedikit dari ahli hadits yang menegaskan bahwa hadits-hadits tentang berlindung dari adzab kubur derajatnya mutawatir.” (Nadhmul Mutanatsir, hal 135)

Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat penetapan adanya adzab kubur dan fitnah kubur. Hal ini merupakan madzhab ahli haq, berbeda halnya dengan pendapat Mu’tazilah.” (Syarh Shohih Muslim 4/237)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari adzab kubur.” (Fathul Bari 2/318)

Ibnu Hazm berkata: “Sesungguhnya adzab kubur adalah benar, dan ditanyanya ruh setelah mati adalah benar, dan tak seorang pun dihidupkan setelah matinya hingga hari kiamat.” (Ibnu Hazm, Al Muhalla, 1/22)

Abu Ja’far Ath-Thahawi berkata: “Kita pun mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya.” (Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, masalah ke-92)

Ibnu Abi Hatim berkata: “Adzab kubur adalah benar (adanya).” (Ushulus Sunnah Wa I’tiqad Din, masalah ke-14)

Kesepakatan dan ijma’ ini juga dinukil oleh Al-Qostholani dalam Irsyad As-Sari 3/468, Al-Juwaini dalam Al-Irsyad hal.375, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Ar-Ruuh hal.104, As-Saffarini dalam Lawami’ul Anwar 2/5, Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi dalam Syarh Aqidah At-Thohawiyyah 2/576. Demikian pula hampir tidak ada kitab hadits dan aqidah kecuali menetapkannya. (Diantaranya kitab Al-I’tiqod Al-Qodhi Abu Ya’la hal.32, Al-I’tiqod Al-Baihaqi hal.290, Syarh Ushul I’tiqod Ahli Sunnah Al-Lalikai 6/1199, Al-Hujjah Fi Bayanil Mahajjah Al-Ashbahani 1/499, I’tiqod Aimmah Hadits Al-Ismaily hal.69-70, Ushul Sunnah Ibnu Abi Zamnin hal.154, Al-Iqtishad Fil I’tiqod Abdul Ghani Al-Maqdisi hal.172-175, Syarh Sunnah Al-Barbahari hal.72, Qothfus Tsamar Fi Aqidah Ahli Atsar Shiddiq Hasan Khon hal.131-132)

Imam Al-Qostholani berkata: “Sebagian kelompok beranggapan bahwa adzab kubur tidak disebutkan dalam Al-Qur’an tetapi hanya disebutkan dalam hadits-hadits ahad. Oleh karenanya pengarang (Imam Bukhori) menyebutkan beberapa ayat yang menunjukkan siksa kubur untuk membantah mereka.” (Irsyad Saari 3/468, lihat pula Fathul Bari 3/233).

Beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebut tentang adzab kubur:
“Alloh meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Alloh menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
Ayat yang mulia ini turun berkenaan tentang adzab kubur sebagaimana dikatakan oleh sahabat Bara’ bin Azib. (HR.Bukhari 1369 dan Muslim 2871).
Imam Bukhari berkata: “Ayat ini turun tentang adzab kubur.” (Shahih Bukhari, Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fi Azabil Qabri, No. 1369)
Imam Muslim berkata:Ayat ini turun tentang adzab kubur, maka akan dikatakan kepada penghuni kubur; Siapa Tuhanmu?, dia menjawab: Tuhanku adalah Allah dan Nabiku adalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka untuk itulah maksud ayat ini. (Shahih Muslim, Kitab Al Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha Bab ‘Ardhi Maq’adil mayyit minal jannati aw an nari ‘alaihi wa itsbaati ‘adzaabil qabri wa ta’awudz minhu, No. 2871)
Syaikh Hafizh Al-Hakami berkata: “Ayat ini secara gamblang menjelaskan tentang siksa kubur berdasarkan hadits-hadits berikut dan kesepakatan para Imam ahli tafsir dari kalangan sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka.” (Ma’arij Al-Qobul 2/877)

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS.Thoha: 124)
Dari Abu Hurairah dari Nabi tentang firman Alloh ‘maka baginya penghidupan yang sempit’, Nabi bersabda: “Yaitu adzab kubur.” (Hasan. Diriwayatkan Ibnu Hibban 3119, Al-Baihaqi dalam Itsbat Adzab Qobr no.69-70, Al-Hakim 1/381, Al-Bazzar sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir 3/187. Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya 3/187: “Sanadnya jayyid”. Dan dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Ta’liqot Al-Hisan 5/113)
Ibnul Qayyim berkata: “Tak sedikit dari ulama salaf menafsirkan ayat di atas dengan siksa kubur dan mereka menjadikannya sebagai salah satu dari sekian dalil yang menunjukkan adzab kubur.” (Miftah Darr Sa’adah 1/206, Ad Daa’ Wa Dawa,185, Al-Fawaid 412)
Ulama salaf tersebut diantaranya adalah sahabat Abu Sa’id Al-Khudri, Abdullah bin Mas’ud, Abu Shalih, As-Suddi, dll. (Lihat Al-Mushonnaf 6741 Abdur Razzaq, As-Sunnah 2/600,612,613 Abdullah bin Ahmad, Ad-Durr Al-Mantsur 4/311 As-Suyuthi). Tafsir ini juga dikuatkan oleh Imam Ahli tafsir Ibnu Jarir Ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan 9/228.

“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian adzab yang dekat sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat). Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajadah: 21)
Berkata Mujahid tentang maksud adzab yang dekat’: “Yakni adzab yang dekat di kubur dan di dunia.” (Imam At Thabari, Jami’ al Bayan fi Ta’wil al Quran, 20/191)
Berkata Imam Ibnu Katsir tentang ayat ini:Berkata Al Bara bin ‘Azib, Mujahid, dan Abu ‘Ubaidah, maksudnya adalah adzab kubur.(Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/369)

“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.” (QS. At-Taubah: 101)
Ibnu Jarir Ath Thabari berkata tentang makna ‘mereka akan Kami siksa dua kali’: “Kami akan mengadzab orang-orang munafik itu dua kali, adzab satunya di dunia, dan yang lainnya di dalam kubur.” (Jami’ al Bayan fi Ta’wil Al Quran, 14/441)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menafsirkan ayat di atas adalah adzab kubur. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan tentang khutbah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Jum’at, saat itu beliau mengusir mereka dari Masjid, di bagian akhir beliau bersabda:
“Hari ini Allah telah menunjukkan keburukan orang-orang munafik! Ini adalah adzab yang pertama yakni ketika mereka diusir dari mesjid. Sedangkan adzab yang kedua adalah adzab kubur.” (Jami’ al Bayan fi Ta’wil Al Quran, Juz. 14, hal. 442)
Begitu pula yang dikatakan oleh Qatadah, Al Hasan, dan Ibnu Juraij, bahwa maksud dari ‘mereka akan Kami azab dua kali, adalah adzab dunia dan adzab kubur. (Jami’ al Bayan fi Ta’wil Al Quran, Juz. 14, Hal. 443-444)
Dari Ibnu Abbas, dia berkata tentang makna ayat ‘mereka akan Kami adzab dua kali’:
Ibnu Katsir berkata: “Maka adzab pertamanya adalah ketika mereka (orang munafik) diusir dari mesjid, adzab yang kedua adalah di kubur. (Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/205)
Ibnu Hajar Al ‘Asqalani rahimahullah berkata:Berkata Ath-Thabari setelah dia menyebutkan berbagai perbedaan dari selain mereka; bahwa umumnya mereka menafsirkan makna satu di antara dua adzab itu adalah adzab kubur, sedangkan yang lainnya bisa salah satu yang telah disebutkan seperti kelaparan, terbunuh, terhina, dan lainnya. (Fathul Bari, 3/233)

“Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat, (lalu kepada Malaikat diperintahkan): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras’.” (QS. Al-Mu'min: 46)
Ibnu Katsir mengatakan: “Ayat ini merupakan prinsip terbesar yang dijadikan dalil oleh Ahlus Sunnah tentang adanya adzab kubur.” (Tafsir Ibnu Katsir IV/85-86, cet. Daarus Salaam)

Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" (QS. Yasin: 52)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:(Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?") Mata mereka melihat dibangkitkannya mereka dari kubur mereka yang dahulu ketika masih di dunia mereka meyakini tidak adanya kebangkitan dari kubur. Ketika mereka menyaksikan apa yang dahulu mereka dustakan, di tempat mereka dikumpulkan (Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?"), ayat ini tidak mengingkari adzab mereka di kubur mereka, karena begitu kerasnya apa yang mereka dapatkan setelah itu, diumpamakan seperti di tempat tidur. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/581)
Kedahsyatan dan ketakutan makhluk pada hari Kiamat merupakan puncak ketakutan yang mereka alami dibandingkan sebelumnya. Ini tergambar dalam hadits syafa’at :
“....Ketika itu Allah mengumpulkan semua manusia dari orang-orang terdahulu hingga orang-orang terakhir di suatu tempat tinggi yang datar. Mereka bisa mendengar suara penyeru dan mereka pun terjangkau oleh penglihatan. Matahari amat dekat sehingga mereka mengalami kesengsaraan dan kesulitan yang mereka tidak kuasa dan tidak tahan menghadapinya. Sesama manusia akan mengatakan : ”Tidakkah kalian lihat betapa berat penderitaan yang kalian alami ? Mengapa kalian tidak mencari orang yang bisa menolong kalian dengan syafa’at/pertolongan kepada Tuhan kalian ?”. Sebagian manusia mengatakan kepada yang lain : ”Temuilah Adam”. Mereka pun menemui Adam ’alaihis-salaam dan berkata kepadanya : ”Engkaulah ayah umat manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, kemudian meniupkan sebagian ruh-Nya kepadamu dan memerintahkan para malaikat bersujud kepadamu. Mohonkanlah syafa’at Tuhanmu kepada kami ! Tidakkah engkau lihat nasib yang kami alami ? Tidakkah engkau melihat penderitaan yang kami alami ?”. Adam menjawab : ”Pada hari ini kemarahan Allah tiada tara dengan kemarahan sebelumnya atau sesudahnya. Dulu aku pernah dilarang oleh Allah mendekati sebatang pohon tetapi aku melanggar larangan tersebut. Celakalah diriku !.....” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4435)

Jadi sangatlah tepat apa yang dikatakan oleh Ibnu Katsir bahwa kedahsyatan hari kiamat mengalahkan segala ketakutan yang telah mereka alami di dunia dan alam barzakh/kubur. Hingga, seolah-olah keterkejutan mereka pada waktu itu seperti dibangunkan dari tidur. Lihatlah, bahwa para Nabi pun sampai takut dan mengkhawatirkan dirinya atas kemarahan Allah pada hari Kiamat nanti ! Lantas, bagaimana dengan kita ?

Ibnul Qayyim berkata: “Apabila anda menghayati hadits-hadits seputar siksa dan nikmat kubur niscaya anda akan mendapatinya telah menjelaskan dan memerinci makna ayat Al-Qur’an.” (Ar-Ruuh hal.134)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar