Kamis, 31 Maret 2016

Sihir Bisa Menyakiti dan Membunuh Manusia Dengan Izin Allah

Sihir Bisa Menyakiti dan Membunuh Manusia Dengan Izin Allah - Sihir tidak hanya sebatas halusinasi/khayalan/pengkaburan/pengelabuhan mata saja, namun juga bisa berpengaruh jahat pada tubuh fisik manusia. Memang benar bahwa pengelabuhan mata itu juga termasuk salah satu jenis sihir seperti yang dilakukan oleh para tukang sihir Fir’aun yang menyihir tali menjadi tampak seperti ular. Selain itu, ada juga sihir yang bisa mencerai-beraikan rumah tangga/pasangan suami istri, ada sihir yang membuat seseorang menjadi benci atau cinta, ada sihir yang bisa menyakiti bahkan membunuh manusia dengan izin Allah.

Ibnul Qayyim berkata: “Banyak berita-berita dari para Sahabat dan ulama-ulama salaf bahwa sihir mampu memberi rasa sakit, stres, pernikahan, cinta, benci, kebohongan dan lainnya, yang tak dapat kita pungkiri lagi.” (Tafsir Al-Mu’awwidzatain oleh Ibnul Qayyim, hlm. 31,33)

Ibnul Qayyim berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :“Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”, [Al Falaq/113:4]. Dan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha di atas menetapkan adanya pengaruh dan hakikat sihir. Sebagian ahli kalam dari kalangan Mu’tazilah dan lainnya ada yang mengingkarinya. Mereka mengatakan, sebenarnya pengaruh sihir itu tidak ada. Baik berupa penyakit, pembunuhan, kerasukan, keterpikatan atau pengaruh-pengaruh lain. Menurut mereka, semua itu hanyalah halusinasi orang-orang yang melihatnya, dan bukan sesuatu yang nyata”. (Badaa-i’ul Fawaa-id II/227-228)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Kafi berkata :
السحر عزائم ورقى وعقد يؤثر في القلوب والأبدان، فيمرض ويقتل، ويفرق بين المرء وزوجه
“Sihir adalah jimat-jimat, jampi-jampi, dan ikatan-ikatan (buhul) yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Maka sihir dapat menyakiti, membunuh, dan memisahkan antara suami dengan istrinya.” (Fathul-Majiid, hal. 270)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata: “Sihir adalah jimat, jampi, atau lafazh yang diucapkan atau ditulis, atau suatu perbuatan yang berpengaruh pada orang yang jadi sasaran, baik fisiknya, hatinya, atau akalnya tanpa kontak langsung. Sihir itu bisa membunuh, membuat sakit, mencegah seorang suami dari menggauli istrinya hingga menceraikannya, mempengaruhi cinta mereka atau membuatnya saling benci.” (Al Mughni, 10/104)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al Mughni menjelaskan: “Sihir itu memiliki hakikat, ada diantaranya yang mematikan, ada juga yang menghalangi pasangan suami isteri, di mana suami tidak dapat mencampuri isterinya dan ada juga sihir yang memisahkan antara suami dan isteri. Sudah merupakan suatu hal yang populer di kalangan masyarakat umum, di mana ada pasangan suami isteri yang telah melakukan akad nikah, tetapi sang suami tidak kuasa mencampuri isterinya, dan jika akad pernikahannya telah putus, mantan suami itu baru bisa melakukan hubungan badan, yakni setelah dia tidak mungkin mencampurinya. Berita ini mencapai derajat mutawatir yang tidak mungkin diingkari.” (Al-Mughni 10/106)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :
فَيُقَالُ لِلسَّاحِرِ: صِفِ السِّحْرَ الَّذِي تَسْحَرُ بِهِ، فَإِنْ كَانَ مَا يَسْحَرُ بِهِ كَلَامَ كُفْرٍ صَرِيحٍ اسْتُتِيبَ مِنْهُ، فَإِنْ تَابَ وَإِلَّا قُتِلَ، وَأُخِذَ مَالُهُ فَيْئًا، وَإِنْ كَانَ مَا يَسْحَرُ بِهِ كَلَامًا لَا يَكُونُ كُفْرًا، وَكَانَ غَيْرَ مَعْرُوفٍ، وَلَمْ يَضُرَّ بِهِ أَحَدًا نُهِيَ عَنْهُ، فَإِنْ عَادَ عُزِّرَ، وَإِنْ كَانَ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَضُرُّ بِهِ أَحَدًا مِنْ غَيْرِ قَتْلٍ، فَعَمَدَ أَنْ يَعْمَلَهُ عُزِّرَ
“Dan dikatakan kepada pelaku sihir : ‘Sifatkan sihir yang engkau menyihir dengannya’. Apabila sesuatu yang ia pakai untuk menyihir berupa perkataan kufur yang jelas, maka ia diminta bertaubat. Jika ia bertaubat, taubatnya diterima; dan jika tidak, ia dibunuh, diambil hartanya sebagai fai’. Namun apabila sesuatu yang ia pakai untuk menyihir berupa perkataan yang tidak mengandung kekufuran, tidak ma’ruuf, dan tidak menyebabkan bahaya bagi seseorang, maka ia dilarang darinya. Jika ia mengulangi, ia dihukum ta’zir. Jika ia mengetahui bahwasannya sihir itu menyebabkan bahaya bagi orang lain tanpa membunuhnya, lalu ia sengaja melakukannya, maka ia dihukum ta’zir” [Al-Umm, 1/256-257].

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya tentang hukuman tukang sihir, “Imam Malik berkata: jika sihirnya membunuh maka ia dibunuh. Imam Syafi’i mengatakan: jika tukang sihir itu mengatakan aku tidak sengaja membunuhnya, maka ia termasuk pembunuh yang tidak sengaja dan diharuskan baginya membayar denda.” (Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 vol. 6 hlm. 212)

Imam Al Khotib Asy-Syarbini menjelaskan: “Madzab ini (madzab Syafi’i-red) berkata: Barangsiapa yang membacakan pengakuan bahwa sihir yang dimilikinya, biasanya dapat merenggut nyawa, maka vonisnya adalah hukuman mati. Adapun yang membacakan pengakuan bahwa sihirnya jarang membunuh, maka hukumannya sebagaimana pembunuh Syibh Al-‘Amd (tidak sengaja membunuh). Sementara sihir yang salah sasaran, maka hukumannya sebagaimana pembunuh Khata’ (tidak sengaja).” (Mughnil Muhtaj oleh Al Khotib Asy-Syarbini jilid 4 hlm. 118)

Imam Ar-Razi berkata dalam tafsirnya: “Hendaknya dua orang saksi bersaksi bahwa si fulan meyakini bahwa dia telah pada penjelasan komplit tentang pengaruh yang menggerogoti dirinya, baik pada jasadnya, sehari-harinya, atau perubahan fisik sesuatu, atau apa yang dinamakan sihir hipnotis. Ini juga termasuk bagian dari sihir, yang tidak diragukan lagi kekafirannya bagi yang mempraktikkannya. (Tafsir Ar-Razi jilid 1 hlm. 449)

Para pemimpin Yahudi berkata kepada A’sham: “Wahai Abu A’sham, anda adalah tukang sihir kami. Kami telah menyihir Muhammad, namu gagal. Karena itu, wahai Abu A’sham kami memohon padamu untuk menyihir Muhammad, agar dia merasa kesakitan dan membutuhkan pengobatan.” Para pemimpin Yahudi ini memberikan 3 dinar kepada Labid. (Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari 10/226)

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan dalam kitabnya Fath min Az-Ziyaadat sebuah riwayat dari Umarah yang bersimber dari Aisyah. Diceritakan bahwa Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam mendapati keanehan dalam ingatannya. Ternyata ada yang menyihirnya dan dilakukan oleh Labid bin Al-A’sham dengan menggunakan lilin yang menyerupai bentuk Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam. Dalam lilin itu terdapat jarum yang tajam. Malaikat Jibril pun turun dengan mengajarkan surat Al-Muawwidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq). Setiap kali Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam membaca satu ayat, terlepaslah jarum yang terasa begitu pedih lalu ia beristirahat. Demikian seterusnya hingga pikirannya kembali segar. (Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari jilid 10 hlm. 230)

Qadhi Iyadh berkata: “Sihir adalah salah satu penyakit, dan mencegah penyakit ini bagi Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam boleh-boleh saja. Sihir merupakan penguasaan terhadap jasad manusia dan menimbulkan rasa luka. Dia tidak berbeda dengan penyakit lain.” Ibnu Hajar berkata: “Pada saat Abdullah bin Abdurrahman diutus pada Ibnu Sa’ad, saudara perempuan Labid bin A’sham berkata, ‘Jika betul dia seorang Nabi maka khabarkanlah. Jika tidak, sihir ini akan membuat dia hilang akal’.” (Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari jilid 10 hlm. 227)

Ada riwayat yang menceritakan bahwa Aisyah radhiyallahu’anha pernah terkena sihir. Dari Sufyan bin Uyainah dari Yahya bin Said Al-Anshari dari Abu Rijal dari Amrah, dia berkata, “Suatu ketika Aisyah jatuh sakit. Sakitnya berlangsung cukup lama hingga mereka membawa Aisyah pada seorang lelaki untuk menyembuhkannya. Mereka menceritakan tentang penyakit Aisyah. Sang lelaki berkata, “Sesungguhnya kalian menceritakan kepadaku tentang khabar seorang mathbubah (wanita yang terkena sihir).” (Nailul Authar oleh Asy-Syaukani jilid 7 hlm. 366)
Mereka pergi mencari dan menemukan seorang budak wanita sebagai pelakunya. Aisyah sudah pernah memberikan perjanjian dabr. Aisyah pun menemuinya dan bertanya, “Apa yang kamu inginkan dariku?” Dia berkata, “Aku ingin engkau mati, hingga aku bisa merdeka.” Aisyah berkata, Demi Allah, sesungguhnya aku akan membelimu dari sang tuan Arab yang kasar.” Maka Aisyah pun membelinya dan memerintahkan untuk membayar dengan harga sesuai pasar. (Al-Muhalla oleh Ibnu Hazm jilid 13 hlm. 471)

Syaikhul Islam Abu Utsman Ismail Ashabuni berkata: “Mereka (Ashabul Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan tukang sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ 
"Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah." (QS. Al-Baqarah:102) 
Siapa yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia berkeyakinan bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat tanpa izin Allah, maka ia telah kafir kepada Allah Ta'ala.” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits oleh Syaikhul Islam Ashabuni)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dan sekelompok manusia telah mengingkari hal ini (disihirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam-red). Mereka mengatakan: “Ini tidak boleh menimpa diri Rasul,” bahkan mereka menganggap ini sebagai suatu kekurangan dan aib. Dan perkaranya tidak seperti yang mereka duga, akan tetapi sihir tersebut adalah dari jenis perkara (penyakit) yang berpengaruh terhadap diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hal ini termasuk  dari jenis-jenis penyakit yang menimpanya sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga tertimpa racun, di mana tidak ada perbedaan antara pengaruh sihir dengan racun.” (Zaadul Ma’ad 4/ 124)

Qadhi Iyadh berkata: “Tampaklah sesungguhnya sihir. Dia mampu menguasai jasad dan memperlihatkan pengaruhnya. Namun bukan pada keistimewaan dan keyakinannya. Sihir yang menimpanya bagai penyakit yang dengan kehendak Allah lalu disembuhkan. Ini bukanlah perkara yang mengandung nilai kekurangan, bukan juga perkara aneh bagi Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam, seperti sakit wajar bagi seorang Nabi, rasa pusing Rasulullah, kakinya robek atau tubuhnya terluka. Ini adalah ujian yang diberikan Allah agar makin meningkatkan derajat dan menambahkan kemuliaannya. Ujian terhebat yang pernah menimpa manusia adalah ujian bagi para Nabi. Mereka diuji oleh umatnya dengan berbagai percobaan pembunuhan, pemukulan, makian dan penyanderaan. Karena itu, bukanlah sesuatu yang dibuat-buat jika Nabi diserang oleh musuhnya dengan sihir. Seperti halnya orang yang menguji Rasul dengan melemparinya hingga tulangnya patah. Diuji dengan penyakit yang muncul di punggung plasentanya hingga tak berdaya, dan lainnya. Ini bukanlah kekurangan, atau aib memalukan terhadap para Nabi. Hal ini bahkan menambah kesempurnaan dan ketinggian derajat mereka.” (Fathul Bari 10/227 dan Tafsir Al-Muawwidzatain oleh Ibnul Qayyim hal. 29, 30)

Al Qurthubi rahimahullahu mengatakan: “Ahlus Sunnah telah berpendapat bahwa sihir itu telah pasti ada dan memiliki hakikat. Sedangkan penganut Mu'tazilah secara umum dan Abu Ishaq al-Istirabadi, salah seorang penganut madzhab Syafi'i berpendapat, bahwa sihir itu tidak memiliki hakikat, tetapi sihir hanya merupakan tindakan pengelabuhan, pemunculan bayangan dan penipuan terhadap sesuatu, tidak seperti yang (tampak) sebenarnya. Sihir ini tidak ada bedanya dengan hipnotis dan sulap. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala: "Terbayang oleh Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka". (QS. Thaha : 66)
Dan Allah tidak mengunakan kata tas'aa untuk pengertian yang sebenarnya, tetapi Dia mengatakan: Terbayangkan oleh Musa. Selain itu, Dia juga berfirman: "Mereka menyihir mata umat manusia". (QS. Al-A'raf : 116) Yang demikian itu tidak mengandung hujjah sama sekali, karena tidak memungkiri pengelabuhan dan juga selainnya,yang merupakan bagian dari sihir. Tetapi, telah ditetapkan di balik itu berbagai hal yang diterima oleh akal dan pendengaran. Diantara hal itu adalah apa yang disebutkan dalam ayat diatas yang menyebutkan sihir dan mempelajarinya. Seandainya sihir itu tidak memiliki hakikat, maka tidak mungkin untuk dipelajari dan juga Allah Ta'ala tidak akan memberitahukan bahwa mereka mengajarkan sihir itu kepada umat manusia. Yang mana hal itu menunjukan bahwa sihir itu memang mempunyai hakikat. Begitupun firman Allah Ta'ala yang menceritakan tentang kisah para tukang sihir Fir'aun: “Mereka mendatangkan sihir yang besar.” (Al- A'raf : 116) dan Surat Al-Falaq, di mana para ahli tafsir telah bersepakat bahwa sebab turunnya ayat ini adalah berkenaan dengan sihir Labid bin al-A'sham, hal tersebut juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Imam Muslim serta perawi lainnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah disihir oleh seorang Yahudi dari suku Bani Zuraiq, yang bernama Labid Al A'sham.” Di dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pada saat mengobati sihir berkata: “Sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku.” Kata Asy-syifa adalah terjadi dengan menghilangkan sebab dan menghilangkan penyakit, sehingga hal itu menunjukan bahwa sihir itu memang ada dan hakiki. Keberadaan dan kejadian sihir itu dipastikan ada melalui pemberitahuan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Ulama telah mengeluarkan Ijma' (kesepakatan) mengenai hal tersebut. Dengan adanya kesepakatan mereka ini, maka tidak perlu dipedulikan lagi kebodohan kaum Mu'tazilah dan penentangan mereka terhadap pemegang kebenaran. Pada zaman-zaman dulu, sihir ini telah tersebar luas dan banyak di perbincangkan oleh umat manusia, dan tidak tampak adanya penolakan (tentang adanya sihir) dari para Sahabat dan Tabi'in.” (Tafsir al-Qurtubi II / 46)

Al-Maziri berkata: “Sihir merupakan suatu hal yang tetap dan mempunyai hakikat seperti berbagai wujud lainnya, dan dia mempunyai pengaruh terhadap diri orang yang disihir. Pendapat ini bertentangan dengan orang yang mengklaim bahwa sihir itu tidak mempunyai hakikat, dan hal-hal yang sesuai dengan sihir itu tidak mempunyai hakikat, dan hal-hal yang sesuai dengan sihir itu tidak lain hanyalah hayalan semata, yang tidak mempunyai hakikat sama sekali. Apa yang mereka klaim itu justru bathil dan tidak benar, karena Allah Ta'ala telah menyebutkan di dalam kitab-Nya, Al-Quran, bahwa sihir itu dapat dipelajari dan bahkan dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir, serta bisa juga memisahkan pasangan suami isteri. Juga dalam hadits yang menceritakan tentang penyihiran terhadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, disebutkan bahwasannya sihir itu berupa sesuatu yang ditimbun. Semuanya itu merupakan suatu hal yang tidak mungkin berlaku pada sesuatu yang tidak mempunyai hakikat, dan bagaimana mungkin sesuatu yang tidak mempunyai hakikat itu di pelajari?” (Zaadul Muslim IV/225)

Ibnu Abil Izzi Al Hanafi (murid Ibnu Katsir) berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat sihir dan jenis-jenisnya, tetapi mayoritas ulama Ahlu Sunnah wal Jama'ah berpendapat sihir dapat memberikan pengaruh langsung terhadap kematian orang yang disihir atau membuatnya jatuh sakit, tanpa terlihat tanda-tanda lahiriyah yang menyebabkannya. Sebagian lainnya -yakni dari kalangan ahli filsafat dan kelompok Mu'tazilah- mereka mengklaim jika sihir hanyalah khayal (ilusi) belaka.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, Ibnu Abil Izzi, hlm. 505)

Imam Al-Baghawi berkata: “Setelah terjalin persetujuan dalam akad, Labid lalu menjalankan aksinya. Turunlah 2 surat untuk meminta perlindungan, yang jumlah total seluruhnya mencapai 11 ayat. Dengan rincian, Surat Al-Falaq 5 ayat dan Surat An-Naas 6 ayat. Ketika Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam membaca kedua surat tersebut, terlepaslah semua ikatan sihir yang melingkupi Rasul Shollallahu ‘alaihi wasallam. Bangkitlah Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam dan dia merasakan kebugarannya seperti sediakala, pikirannya menjadi terang benderang.” (Tafsir Al-Muawwidzatain oleh Ibnul Qayyim hal. 29 cet. Safliah)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab  berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: “Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul” (QS. Al Falaq: 4) menunjukkan bahwa, pengaruh sihir itu benar-benar nyata. Beberapa kelompok ahlu kalam (filosof dan kalangan Mu'tazilah) mengingkari adanya pengaruh sihir ini. Mereka mengatakan, sebenarnya pengaruh sihir itu tak ada. Baik berupa penyakit, pembunuhan, kerasukan, keterpikatan dan pengaruh-pengaruh lain. Semua itu hanyalah imajinasi orang-orang yang melihatnya, dan bukan sesuatu yang sebenarnya.” (Tafsir Surat Al Falaq dan Surat An Naas, Muhammad bin Abdul Wahhab, hlm. 3-4)

Syaikh Shalih bin Fauzan (Ulama Arab Saudi) mengatakan: “Dinamakan sihir karena terjadi dengan perkara yang sangat tersembunyi yang tidak akan bisa dilihat oleh mata. Yaitu berbentuk jimat-jimat, jampi-jampi, pembicaraan-pembicaraan, atau melalui asap-asap. Sihir memiliki hakikat dan diantaranya berpengaruh terhadap hati dan badan sehingga bisa menyebabkan sakit, terbunuh, dan memisahkan antara suami istri.” (At-Tauhid, hal. 21)

Al-Maziri rahimahullah berkata :
وجمهور علماء الأمة على اثبات السحر وأن له حقيقة كحقيقة غيره من الأشياء الثابتة خلافا لمن أنكر ذلك ونفى حقيقته واضاف ما يقع منه إلى خيالات باطلة لاحقائق لها وقد ذكره الله تعالى فى كتابه وذكر أنه مما يتعلم وذكر ما فيه اشارة إلى أنه مما يكفر به وأنه يفرق بين المرء وزوجه وهذا كله لا يمكن فيما لاحقيقة له وهذا الحديث أيضا مصرح باثباته وأنه أشياء دفنت وأخرجت وهذا كله يبطل ما قالوه فإحالة كونه من الحقائق محال
“Jumhur ulama umat menetapkan keberadaan sihir dan ia mempunyai hakekat sebagaimana hakekat dari perkara-perkara lain yang telah tetap. Berbeda halnya dengan orang yang mengingkarinya dan menafikkan hakekatnya, dimana mereka menyandarkan apa yang terjadi dari sihir sebagai khayalan/halusinasi belaka, tanpa hakekat. Allah ta’ala telah menyebutkan dalam kitab-Nya dan menyebutkan bahwasannya sihir termasuk sesuatu yang dapat dipelajari. Dan Allah pun menyebutkan bahwa sihir merupakan perkara yang dapat mengkafirkan pelakunya, dan ia dapat memisahkan pasangan suami istri. Semuanya ini tidaklah mungkin jika tidak ada hakekatnya. Dan hadits ini (yaitu dalam bab sihir) juga menegaskan tentang penetapannya dan ia merupakan sesuatu yang terkubur dan kemudian muncul kembali. Dan semuanya ini membatalkan apa yang mereka katakan. Oleh karena itu, meniadakan keberadaan hakekatnya adalah mustahil...” (Syarh Shahih Muslim lin-Nawaawiy, 4/174).


SIHIR BANYAK MACAMNYA, TIDAK HANYA DIBATASI DENGAN SIHIR PENGELABUHAN MATA SAJA

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata :
اعلم أن السحر في الاصطلاح لا يمكن حده بحد جامع مانع. لكثرة الأنواع المختلفة الداخلة تحته، ولا يتحقق قدر مشترك بينها يكون جامعاً لها مانعاً لغيرها. ومن هنا اختلفت عبارات العلماء في حده اختلافاً متبايناً
“Ketahuilah, bahwasannya sihir secara istilah tidak mungkin diberikan batasan dengan batasan yang menyeluruh dan jelas karena banyaknya macam hal yang berbeda-beda masuk dalam cakupannya. Dan tidaklah dapat dinyatakan ukuran kebersamaan di antara macam hal tersebut sehingga dapat meliputi keseluruhannya, dan pencegah bagi selainnya. Dari sini terjadi perbedaan yang jelas atas ungkapan pada ulama dalam membatasi definisinya” (Adlwaaul-Bayaan, 4/40).

Al Qurthubi rahimahullahu mengatakan: “Ahlus Sunnah telah berpendapat bahwa sihir itu telah pasti ada dan memiliki hakikat. Sedangkan penganut Mu'tazilah secara umum dan Abu Ishaq al-Istirabadi, salah seorang penganut madzhab Syafi'i berpendapat, bahwa sihir itu tidak memiliki hakikat, tetapi sihir hanya merupakan tindakan pengelabuhan, pemunculan bayangan dan penipuan terhadap sesuatu, tidak seperti yang (tampak) sebenarnya. Sihir ini tidak ada bedanya dengan hipnotis dan sulap. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala: "Terbayang oleh Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka". (QS. Thaha : 66)
Dan Allah tidak mengunakan kata tas'aa untuk pengertian yang sebenarnya, tetapi Dia mengatakan: Terbayangkan oleh Musa. Selain itu, Dia juga berfirman: "Mereka menyihir mata umat manusia". (QS. Al-A'raf : 116) Yang demikian itu tidak mengandung hujjah sama sekali, karena tidak memungkiri pengelabuhan dan juga selainnya,yang merupakan bagian dari sihir.” (Tafsir al-Qurtubi II / 46)

Sihir banyak sekali macamnya, ada yang hanya sekedar tipuan/pengelabuhan mata saja, ada yang bisa mencerai-beraikan sebuah rumah tangga/pasangan suami istri, ada yang membuat seorang makin cinta atau benci, dan ada juga yang bisa menyebabkan seseorang jatuh sakit hingga mati. Bahkan untaian kata-kata yang indah pun bisa termasuk kategori sihir sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya sebagian dari bayan (penjelasan/tutur kata indah) itu adalah sihir.” (HR. Bukhari 5/1976, 2176, Shahih Bukhari jilid 10 hlm 223)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Abu Abdullah Ar-Razi membagi sihir menjadi 8 macam:
1. Sihir para pendusta dan kaum Kusydani yang terdiri dari penyembah bintang yang tujuh yang dapat berpindah-pindah, yaitu planet. Mereka berkeyakinan bahwa planet-planet itulah yang mengatur ala mini dan yang mendatangkan kebaikan dan keburukan.
2. Sihir orang-orang yang penuh khayalan (imajinasi) dan memiliki jiwa yang kuat. Mereka menyatakan bahwa khayalan itu memiliki pengaruh dengan argumen bahwa manusia ini dimungkinkan untuk berjalan di atas jembatan yang diletakkan di atas tanah, tetapi tidak mungkin berjalan di atasnya jika jembatan jika jembatan itu diletakkan di atas sungai atau yang semisalnya. Sebagaimana para dokter sepakat melarang orang yang hidungnya berdarah agar tidak melihat kepada segala sesuatu yang berwarna merah.
Ibnu Katsir berkata: “Dia (Ar-Razi) menjadikan sebagai dasar pendapatnya itu dengan apa yang ditegaskan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam bersabda: ‘Terkena ‘ain adalah benar adanya, seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, maka pastilah ‘ain itu mendahuluinya.’
3. Sihir yang menggunakan bantuan jin
4. Sihir dengan tipuan atau sulap mata
5. Sihir yang menakjubkan yang timbul dari penyusunan alat-alat yang tersusun berdasarkan susunan geometri yang bersesuaian.
6. Sihir yang menggunakan bantuan obat-obatan khusus, baik yang berupa obat yang diminum atau dioleskan.
7. Sihir yang berupa penundukan hati.
8. Sihir berupa usaha mengadu domba dengan cara tersembunyi dan lembut.
Kemudian Ar-Razi mengemukakan: Demikianlah uraian mengenai macam-macam sihir dan jenis-jenisnya. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 1, vol. 6 hlm 208-209)


Minggu, 17 Mei 2015

Allah Turun Ke Langit Dunia Tiap Sepertiga Malam Terakhir

Allah Turun Ke Langit Dunia Tiap Sepertiga Malam Terakhir – Salah satu aqidah yang diyakini oleh ahlus sunnah ialah mempercayai hadits shahih tentang turunnya Allah ke langit terendah (langit pertama/langit dunia) pada setiap sepertiga malam terakhir. Pada saat itulah merupakan waktu yang paling mustajab untuk berdoa meminta kepada Allah. Namun sayangnya, hadits shahih ini diingkari oleh orang-orang yang dalam hatinya terdapat penyakit seperti yang dialami oleh Jahmiyah dan Asy’ariyah. Mereka terasa berat untuk mengimani tentang hadits nuzul ini.


DALIL HADITS
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni’.”

Hadits ini dikeluarkan oleh sekelompok ulama ahli hadits, diantaranya:
1. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab At-Tahajud, bab Ad-Du’a fish Shalah min Akhiril Lail, no. 1145; kitab Ad-Da’awat, bab Ad-Du’a Nishfu Al-Lail, no. 6321; dan kitab At-Tauhid, bab Qaul Allahu Ta’ala: Yuriduna An Yubaddilu Kalam Allah, no. 7494.

2. Muslim dalam Shahih-nya, kitab Shalatul Musafirin wa Qasriha, bab At-Targhib fid Du’a wal Dzikri fil Akhiril Lail wal Ijabati Fihi, no. 758.

3. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Ash-Shalah, bab Ma Ja’a Fi Nuzulir Rabbi Tabaraka wa Ta’ala Ilas Sama’i Ad-Dunya Kulla Lailah, no. 446; kitab Ad-Da’awat ‘An Rasulillah, bab Ma Ja’a Fi ‘Aqdit Tasbih Bil Yad, no. 3498.

4. Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Ash-Shalah, bab Ayyu Lail Afdhal?, no. 1315; dan kitab As-Sunnah, bab Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah, no. 4733.

5. Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Iqamah Ash-Shalah was Sunnah Fiha, bab Ma Ja’a Fi Ayyi Sa’at Al-Lailah Afdhal, no. 1366 .

6. Imam Malik dalam Muwaththa’, kitab Ash-Shalah, bab Ma Ja’a Fid Du’a, no. 470.

7. Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah, bab Dzikru Nuzul Rabbuna Tabaraka wa Ta’ala Ilas Sama’i Ad-Dunya Lailah An-Nishfu Min Sya’ban wa Mathla’ihi Ila Khalqihi, no. 492.

8. Ibnu Khuzaimah dalam kitab At-Tauhid, I/280.


DERAJAT HADITS
Hadits tentang nuzulnya/turunnya Allah ke langit dunia tidak diragukan lagi keabsahannya. Seluruh ulama ahli hadits menshahihkannya, tidak ada satupun dari mereka yang melemahkannya. Bahkan, para ulama ahli hadits menilai bahwa derajat haditsnya mutawatir. Diantaranya:

1. Abu Zur’ah berkata : “Hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia ini derajatnya mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Rasulullah. Hadits tersebut menurut kami adalah shahih dan kuat”. (Sebagaimana dinukil oleh Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam Kitab As-Sunnah. Lihat Umdatul Qary 7/199 oleh Al-‘Ainiy)

2. Utsman bin Sa’id Ad-Darimi berkata: “Hadits nuzul diriwayatkan dari dua puluh tiga lebih sahabat dari Nabi”. (Naqdu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Marisi Al-Anid hal. 283 oleh Ad-Darimi)

3. Abdul Ghani Al-Maqdisi: “Telah mutawatir dan shahih hadits-hadits tentang turunnya Allah setiap hari ke langit dunia. Maka wajib bagi kita untuk beriman dengannya, pasrah menerimanya, tidak menentangnya, menjalankannya tanpa takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk) serta takwil (menyelewengkan artinya) sehingga meniadakan hakekat turunnya Allah”. (Al-Iqtishad fil I’tiqad hal. 100)

4. Ibnu Abdil Barr: “Hadits ini adalah shahih sanadnya. Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ahli hadits tentang keabsahannya”. Beliau juga berkata: “Hadits ini dinukil dari jalan-jalan yang mutawatir dan jalur yang banyak sekali dari orang-orang yang adil dari Nabi”. (At-Tamhid 3/338)

5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hadits ini mutawatir dan dinukil dari generasi ke generasi selanjutnya (Majmu Fatawa 5/372). Beliau juga berkata: “Hadits masyhur yang diriwayatkan oleh banyak sahabat”. (Majmu Fatawa 5/382 dan 16/421)

6. Ad-Dzahabi berkata :“Saya telah menulis hadits-hadits tentang nuzul (turunnya Allah) dalam sebuah kitab khusus, derajat hadits-haditsnya saya berani menetapkannya mutawatir”. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar karya Ad-Dzahabi hal. 116)

7. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: “Sesungguhnya turunnya Allah ke langit dunia telah dijelaskan dalam hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah, yang diriwayatkan oleh kurang lebih dua puluh delapan sahabat”. (Ash-Shawa’iq Al-Mursalah 2/221 - Mukhtashar Al-Mushiliy)

Demikian pula ditegaskan oleh Ibnu Abdil Hadi (Ash-Sharimul Munki hal. 229),  Al-Kattani (Nadhmul Mutanasir hal. 192) dan Al-Albani (Silsilah Ash-Shahihah 2/716-717 dan Adh-Dha’ifah 8/365).


PERKATAAN PARA ULAMA
1. Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu
Dari Ibnul Mubarok, dari Sulaiman At Taimi, dari Nadhroh, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan : “Ketika hari kiamat ada yang menyeru, “Apakah datang pada kalian hari kiamat?” Orang yang hidup dan mati pun mendengar hal tersebut, kemudian ALLAH PUN TURUN KE LANGIT DUNIA.” (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 296 oleh Adz-Dzahabi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih sesuai syarat Muslim sebagaimana dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 94, hal. 126).

2. ‘Ubaid bin ‘Umair (Tabi’in)
‘Ubaid bin ‘Umair rahimahullah berkata:  “ALLAH ‘AZZA WA JALLA TURUN KE LANGIT DUNIA PADA SEBAGIAN MALAM. Lalu Allah berkata, “Siapa saja yang memohon kepada-Ku, maka akan Kuberi. Siapa saja yang meminta ampun kepada-Ku, maka akan Kuampuni.” Jika fajar telah terbit, Allah pun naik.” Dikeluarkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam kitab karyanya yang berisi bantahan terhadap Jahmiyah. (Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar karya Ad-Dzahabi no. 320).

3. Imam Asy-Syafi’i
Adz-Dzahabi rahimahullah berkata : "Syaikhul Islam Abul Hasan Al-Hikaari dan Al-Haafizh Abu Muhammad Al-Maqdisi meriwayatkan dengan sanad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu'aib, mereka berdua meriwayatkan dari Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i sang penolong hadits rahimahullah ia berkata : "Perkataan tentang sunnah yang aku berada di atasnya dan aku melihat orang-orang yang aku lihat berada di atasnya seperti Sufyan, Malik, dan selain mereka berdua yaitu mengakui syahadah Laa ilaaha illaallah dan Muhammad Rasulullah, dan bahwasanya Allah berada di atas 'ArsyNya di langit, ia dekat dengan makhukNya sebagaimana yang Ia kehendaki dan IA TURUN KE LANGIT DUNIA sebagaimana yang Ia kehendaki." (Al-'Uluw Li Al-'Aliy al-Goffaar oleh Adz-Dzahabi hal 165 no. 443, atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi wafat 620 H dalam kitabnya Itsbaat Sifat al-'Uluw hal 180 no. 92)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya menukil perkataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau berkata: “Bahwasanya Allah Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, lalu mendekat kepada makhluk-Nya menurut bagaimana yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA menurut bagaimana yang Dia kehendaki.” (Ijtimaa’ul Juyuusy al-Islaamiyyah ‘alaa Ghazwil Mu’aththilah wal Jahmiyah (hal. 122) oleh Imam Ibnul Qayyim, tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Bahwasanya Allah TURUN PADA SETIAP MALAM KE LANGIT DUNIA berdasarkan kabar dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” [Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah II/358]

4. Imam Ahmad bin Hanbal
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Dzam at-Takwil, halm.20: Abu Bakr al-Marwazi berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Ali bin Isa bahwasanya Hanbal telah menyampaikan kepada mereka, ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (al-Imam Ahmad) tentang hadits-hadits yang diriwayatkan ‘SESUNGGUHNYA ALLAH TA’ALA TURUN SETIAP MALAM KE LANGIT DUNIA’, dan ‘sesungguhnya Allah Ta’la dilihat’, dan ‘sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan kaki-Nya’, dan hadits-hadits yang semisal ini”, maka Abu Abdillah (al-Imam Ahmad) berkata, “Kami beriman dengan hadits-hadits ini dan kami menbenarkannya, tanpa ada bagaimananya dan tanpa memaknainya (mentakwilnya) dan kami tidak menolak sedikitpun dari hadits-hadits ini, dan kami mengetahui bahwasanya apa yang datang dari Rasulullah adalah benar jika datang dengan sanad-sanad yang shahih, dan kami tidak menolak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala disifati lebih dari apa yang Allah Ta’ala sifatkan diri-Nya sendiri, atau pensifatan Rasul-Nya tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa adanya batasan (tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat). Orang-orang yang mensifati (Allah Subhanahu wa Ta’ala) tidak akan sampai kepada sifat-Nya (yang sebenarnya) dan sifat-sifat-Nya dari-Nya. Kami tidak melebihi al-Qur’an dan Hadits, maka kami mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kami mensifati sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sifati diri-Nya, kami tidak melampuinya, kami beriman kepada seluruh al-Qur’an yang muhkam maupun yang mutasyabih, dan kami tidak menghilangkan satu sifat pun dari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya karena celaan”. (Dzam at-Takwil, halm. 20, Ibnu Qudamah)

5. Ibnu Khuzaimah
Ibnu Khuzaimah berkata dalam kitabnya At Tauhid: “Bab penyebutan hadits-hadits yang shahih sanad dan matan-nya.” “Para ulama Hijaaz dan ‘Iraaq telah meriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hadits tentang TURUNNYA RABB JALLA WA ‘ALAA KE LANGIT DUNIA PADA SETIAP MALAM. Kami bersaksi dengan satu persaksian yang terucap oleh lisan dan dibenarkan oleh hati, meyakini seluruh khabar yang menyebutkan turunnya Rabb tanpa mensifatkan adanya kaifiyyah. Hal itu dikarenakan Nabi kita Al-Mushthafaa tidak menjelaskan kepada kami kaifiyah turunnya Allah ke langit dunia. Namun kami mengetahui bahwasannya Allah itu turun. Dan Allah jalla wa ‘alaa dan Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan penjelasan yang dibutuhkan kaum muslimin dari perkara agama mereka. Kami adalah orang-orang yang mengatakan dan membenarkan khabar-khabar ini tentang penyebutan an-nuzuul tanpa memperberat diri dalam perkataan tentang sifat-Nya atau sifat kaifiyyah saat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada kami kaifiyah turunnya (Allah)” (At-Tauhiid wa Itsbaati Shifaatir-Rabb ‘Azza wa Jalla oleh Ibnu Khuzaimah 2/289-290).

6. Abu Dawud
Abu Dawud berkata dalam Sunannya : "Bab : Bantahan kepada Jahmiyah", lalu beliau membawakan hadits yaitu "Dari Abu Huroiroh bahwasanya Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam berkata, "RABB KITA TURUN KE LANGIT DUNIA SETIAP MALAM tatkala tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Ia berkata, "Siapakah yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan kabulkan permintaannya, barang siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan barang siapakah yang memohon ampunanku maka Aku akan mengampuninya" (Sunan Abi Daawud no 4735)

7. At-Tirmidzi
At-Tirmidzi mengatakan dalam Kitab Sunannya : Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Alaa’ : Telah menceritakan kepada kami Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami ‘Abbaad bin Manshuur : Telah menceritakan kepada kami Al-Qaasim bin Muhammad, ia berkata : Aku mendengar Abu Hurairah berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah menerima shadaqah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu mengembangkannya untuk kalian sebagaimana salah seorang di antara kalian membesarkan anak kudanya. Hingga, sesuap makanan akan mengembang menjadi segunung Uhud”.
Dan hal itu dibenarkan dalam Kitabullah ‘Azza wa Jalla : “Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat” (QS. At-Taubah : 104). Dan : “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah” (QS. Al-Baqarah : 276).
Abu ‘Isa (At-Tirmidzi-pen) berkata : “Hadits hasan shahih”.
Dan telah diriwayatkan hal itu dari ‘Aisyah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang semisal dengannya. Tidak sedikit dari ulama yang mengatakan tentang hadits ini dan yang semisalnya yang membicarakan tentang shifat dan TURUNNYA RABB TABAARAKA WA TA’ALA PADA SETIAP MALAM KE LANGIT DUNIA. Mereka berkata : Sungguh telah shahih riwayat-riwayat tentang hal ini, mereka mengimaninya, tidak salah paham, dan mereka tidak menanyakan ‘bagaimana’ (hakekat sifat tersebut). Demikianlah yang diriwayatkan dari Maalik, Sufyaan bin ‘Uyainah, ‘Abdullah bin Al-Mubaarak, bahwasannya mereka berkata dalam hadits-hadits ini : ‘Kami memperlakukannya tanpa menanyakan ‘bagaimana’. Dan demikianlah perkataan para ulama dari kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Adapun jahmiyyah mengingkari riwayat-riwayat ini. mereka (Jahmiyyah) berkata : “ini adalah tasybih”. Allah ‘Azza wa Jalla telah di tempat yang lain dalam Kitab-Nya : tangan (al-yadd), pendengara (as-sam’), dan penglihatan (al-bashar), maka Jahmiyyah menta’wilkan dan mentafsirkan ayat-ayat ini selain dari yang ditafsirkan para ulama. Mereka (Jahmiyyah) berkata : “Sesungguhnya Allah tidah menciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya”. Dan mereka (Jahmiyyah) berkata : “Sesungguhnya makna tangan dalam ayat ini adalah kekuatan (al-quwwah)”.
Dan Ishaaq bin Rahawaih berkata : “Tasybih itu hanya terjadi ketika seseorang itu mengatakan : ‘tangan (allah) seperti tangan (makhluk), pendengaran (allah) seperti pendengaran (makhluk)”. Jika ia berkata : ‘Pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk)’, maka inilah yang dinamakan tasybih (penyerupaan). Adapun jika seseorang mengatakan seperti firman Allah : ’tangan, pendengaran, penglihatan’, kemudian ia tidak mengatakan : ’bagaimana’ dan tidak pula mengatakan’seperti’ pendengaran makhluk; maka itu tidak termasuk tasybih. Dan itu sebagaimana firman Allah Ta’ala : ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syuuraa : 11).” (Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 662, Kitab Az-Zakat, Bab: Ma Ja a fi Fadhl ash-Shadaqah).

8. Ad-Darimi
‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi berkata:  “Hadits ini (tentang hadits nuzul/turunnya Allah) sangat pahit bagi kelompok Jahmiyah dan mematahkan faham mereka bahwa Allah tidak di atas arsy tetapi di bumi sebagaimana Dia juga di langit. Lantas bagaimanakah Allah turun ke bumi kalau memang Dia sendiri sudah di atas bumi? Sungguh lafazh hadits ini membantah faham mereka dan mematahkan argumen mereka”. (Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Mirrisi Al-Jahmi Al-Anid hal. 285 oleh Ad-Darimi).

9. Abul-Hasan Al-Asy’ariy
Abul-Hasan Al-Asy’ariy malah bersaksi bahwa ciri ahlussunnah adalah sebagai berikut:  “Berkata Ahlussunnah dan Ashhab al-Hadits: “Dia bukan jisim, tidak menyerupai apapun, Dia ada di atas Arsy seperti yang Dia kabarkan (Thaha: 5). Kita tidak melancangi Allah dalam ucapan, tetapi kita katakan: istawa tanpa kaif. Dia adalah Nur (pemberi cahaya) sebagaimana firmann-Nya (an-Nur: 35), Dia memiliki wajah sebagaimana firman-Nya (al-Rahman: 27), Dia memiliki Yadain (dua tangan) sebagaimana firman-Nya (Shad: 75), dia memiliki dua ‘ain (mata) sebagaimana firmanNya (al-Qamar: 14), Dia akan datang pada hari kiamat Dia dan para malaikat-Nya sebagaiman firman-Nya (al-Fajr: 22), DIA TURUN KE LANGIT TERENDAH sebagaimana dalam hadits. Mereka tidak mengatakan apapun kecuali apa yang mereka dapatkan dalam al-Qur`an atau yang datang keterangannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.” (Al Maqalat: 136 oleh Abul-Hasan Al-Asy’ariy).

10. Abdul Qadir Jailani (470 H)
Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata: “Allah, menggenggam, membuka tangan, mencintai, senang, tidak suka, membenci, ridha, marah, dan murka. Dia memiliki dua tangan, dan kedua tangan itu kanan, dan bahwa hati para hamba berada di antara dua jari dari jemari-Nya. Dia berada di atas, beristiwa’ di atas Arsy, meliputi segala kerajaan-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyaksikan keIslaman budak wanita ketika beliau bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Maka dia menunjuk ke atas. Dan bahwasanya Arsy Allah itu di atas air. Allah beristiwa’ di atasnya, sebelumnya (di bawahnya) adalah 70.000 hijab dari cahaya dan kegelapan. Dan bahwa arsy itu memiliki batasan yang diketahui oleh Allah.”
Beliau juga berkata:  “Seyogyanya menyebutkan sifat istiwa’ tanpa ta`wil. Bahwasanya ia adalah istiwa’nya Dzat di atas Arsy, bukan bermakna duduk dan bersentuhan sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok Mujassimah Karromiyah; juga dalam arti ketinggian (kedudukan) seperti yang dikatakan oleh Asy’arîyyah, juga bukan beristila’ (menguasai) sebagaimana ucapan Mu’tazilah.”
“ALLAH JUGA TURUN KE LANGIT TERENDAH dengan cara yang Dia kehendaki, bukan bermakna turun rahmat-Nya atau pahala-Nya sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’tazilah dan Asya’irah.” (Al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq oleh ‘Abdul Qadir al-Jailani, 56-57).

11. Ibnu Taimiyyah
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya pendapat tentang TURUNNYA ALLAH SETIAP MALAM, telah tersebar luas melalui Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Salafush Shalih serta para ulama dan ahli hadits telah sepakat membenarkannya dan menerimanya. Siapa yang berkeyakinan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka perkataan itu adalah haq dan benar, kendati ia tidak mengetahui tentang hakikat dan kandungan serta makna-maknanya. Sebagaimana orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia tidak memahami makna ayat yang dibacanya. Karena sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (as-sunnah).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan ini dan yang semisalnya secara umum, tidak mengistimewakan seseorang atas orang lain, dan tidak pula disembunyikannya dari seseorang. Sedangkan para Sahabat serta para Tabi’in menyebutkannya, menukilnya, menyampaikannya dan meriwayatkannya di majelis-majelis khusus dan umum pula, yang selanjutnya dimuat dalam kitab-kitab Islam yang dibaca di majelis-majelis khusus maupun umum, seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (V/322-323) dan Syarah Hadits Nuzul(hal. 69)]

12. Al-Ajurri
Al-Ajurri rahimahullah berkata, “Mengimaninya adalah wajib, tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk bertanya, ‘Bagaimana cara Allah turun?’ Dan tidak ada yang mengingkari hal ini, kecuali golongan Mu’tazilah. Adapun ahlul haq, mereka mengatakan, “Mengimaninya adalah wajib tanpa takyif (menanyakan caranya), sebab telah datang hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA TURUN KE LANGIT DUNIA SETIAP MALAM. Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, mereka pula yang meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat, zakat, puasa, haji dan jihad. Maka seperti halnya para ulama dalam menerima semua itu, mereka (ahlul haq) juga menerima hadits-hadits ini, bahkan mereka menegaskan, ‘Barang siapa yang menolaknya maka dia sesat dan keji.’” Mereka (ahlul haq) bersikap waspada darinya (para penolak kebenaran itu) dan memperingatkan ummat dari penyimpangannya.”[Lihat Asy-Syari’ah(II/93) dan ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits (hal. 81)]

13. Abu Utsman Ismail Ashabuni
Ash-Shabuni rahimahullah berkata, “Para ulama ahli hadits menetapkan TURUNNYA RABB ‘AZZA WA JALLA KE LANGIT TERENDAH PADA SETIAP MALAM tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dengan turunnya makhluk (tasybih), tanpa memisalkan (tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana sifat turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa ada komentar lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.” (‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits hal. 75)

14. Abdul Ghani Al-Maqdisi
Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits tentang TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA SETIAP HARI telah mencapai derajat mutawatir dan (sanadnya) shahih. Maka wajib bagi kita untuk mengimaninya, pasrah menerimanya, tidak menentangnya, menjalankannya tanpa takyif (menanyakan caranya) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk) serta takwil (menyelewengkan artinya) sehingga meniadakan hakikat turunnya Allah.” (Al-Iqtishad fil I’tiqad hal. 100)

15. Ibnu Abdil Barr
Ibnu Abdil Barr berkata: “Mayoritas imam Ahli Sunnah berpendapat bahwa ALLAH TURUN sebagaimana dikhabarkan oleh Rasulullah, mereka membenarkan hadits ini dan tidak membagaimanakannya”. (At-Tamhid 3/349)

Ibnu Abdil Barr berkata: “Dalam hadits ini (hadits nuzul) terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyah yang berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana, bukan di atas arsy”. (At-Tamhid 3/338)

16. Adz-Dzahabi
Adz-Dzahabi menyebutkan: Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas  ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, DIA AKAN TURUN KE LANGIT DUNIA, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”. (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656 oleh Adz-Dzahabi. Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-’Uluw 2/1321)

Adz-Dzahabi berkata : “Salaf, para imam sunnah, bahkan para shahabat, Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman mengatakan Allah berada di langit, Allah di atas ‘Arsy, Allah di atas langit-langit-Nya, dan bahwasannya ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA. Hujjah mereka tentang hal itu adalah nash-nash dan atsar-atsar.” (Al-'Uluw Li Al-'Aliy al-Goffaar oleh Adz-Dzahabi hal 107)